Dalam diambil alih oleh perusahaan transportasi online. Ditambah lagi

Dalam
zaman modern seperti ini sangat mudah untuk mendapatkan suatu yang hal diinginkan
atau dibutuhkan, ditambah lagi dengan adanya teknologi yang maju dapat memudahkan
segalanya seperti kemunculannya transportasi berbasis online dalam masyarakat. Transportasi online kini telah menjadi
hal yang umum bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan maupun pinggiran
kota. Mulai dari anak sekolahan hingga para perkerja sudah menggunakan
transportasi online untuk kepentingannya karena lebih mudah mendapatkannya
dibandingkan transportasi konvensional

            Namun selama ini, kemunculan
transportasi online cukup sudah membuat keresahan bagi beberapa pihak. Lalu, bagaimana
supir transportasi konvensional menanggapi masuknya transportasi online dalam
masyarakat?  Bagi supir transportasi
konvensional, perusahaan transportasi online yang tidak memiliki badan hukum
yang jelas dan membuat supir transportasi konvensional menganggap keberadaan
transportasi online ilegal. Namun pada tahun 2017, Kementerian Perhubungan
sudah mengumumkan rumusan Rancangan Peraturan Menteri Nomor 26 Tahun 2017
tetapi telah diganti dengan Nomor 108 tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan
Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Tidak Dalam Trayek. Awalnya, Mahkamah
Agung (MA) mencabut 14 point dari PM No 26 yang mengakibatkan kekosongan
peraturan mengenai transportasi online. Peraturan tersebut berlaku mulai dari 1
November 2017. 1

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Namun
kenyataannya dalam masyarakat, masih terjadi demonstrasi secara besar-besaran
mengenai hal tersebut karena tetap tidak menerima keberadaannya transportasi
online dan juga menghiraukan peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah karena
bukan hanya hal itu saja yang sebagai permasalahan, tetapi masih ada hal lain
yang tidak bisa terima oleh supir-supir transportasi konvensional. Keberadaan
transportasi online telah membuat mengurangnya penghasilan  supir transportasi konvensional yang secara
drastis dan mereka merasa bahwa lahan mereka telah diambil alih oleh perusahaan
transportasi online. Ditambah lagi dengan supir yang diharuskan untuk membayar
pajak kepada pemerintah seperti perusahan taksi yang harus membayar kepada pemerintahan  sehingga memberatkan para supir.

            Supir
transportasi konvensional tersebut merasa bahwa dengan adanya transportasi
online sangat merugikan mereka namun, seharusnya supir-supir tersebut  juga seharusnya bercermin pada hal lain dalam
aspek kebersihan, kenyamanan maupun juga harga. Apabila supir transportasi
konvensional tidak dapat  membuat
pengguna menjadi nyaman maupun menyukainya, hal itu tidak dapat dilimpahkan
semua kesalahannya kepada transportasi online karena transportasi online selalu
berusaha memberikan  pelayanan terbaik
bagi para penggunanya sehingga banyak masyarakat yang beralih menjadi pengguna
transportasi online.

            Tetapi
seiring berjalannya waktu, pemerintah mulai mengambil langkah tegas untuk
menghentikkan pertikaian antara transportasi konvensional dan transportasi
online dengan salah satunya mencabut izin dari transportasi online tersebut.
Beberapa kota sudah menerapkan hal tersebut seperti contohnya kota Bandung.
Banyak yang menentang hal tersebut, seperti supir maupun pengguna transportasi online
seperti salah satu pengguna transportasi online bernama Surili Percussion
dengan melakukan petisi mengenai pencabutan larangan transportasi online di
Bandung karena dengan adanya kebijakan tersebut membuat masyarakat rugi karena
merasa haknya di ambil oleh pemerintah dan secara tidak langsung memaksa untuk
angkutan konvensional yang tidak jelas. Menurut Surilis, angkutan konvensional
merasa tidak nyaman karena angkutan itu mengetem di tempat-tempat ramai secara
sembarangan, lalu ditambah lagi dengan paksaan dari angkutan tesebut untuk
saling berdesak-desakkan karena sudah melampui kapasitas yang membuat tidak
nyaman 2dan akhirnya petisi itu pun
ditanggapi oleh banyak kalangan, dari pengguna 
maupun supir sehingga Walikota dari Bandung, Ridwan Kamil memperbolehkan
operasi kembali untuk transportasi online di daerah Bandung dengan sekitarnya
berdasarkan keputusan bersama dengan Kementrian Perhubungan.3

Sebenarnya, banyak
masyarakat yang tidak memusingkan mengenai hal keberadaan transportasi online
dan tidak membuat masyarakat untuk berpindah dari transportasi online. Justru
sebaliknya, banyak pengguna transportasi online yang mendukung dengan adanya
hal tersebut karena mereka berasumsi bahwa dengan menggunakan transportasi
online lebih cepat, nyaman dan  harganya
lebih terjangkau dibandingkan transportasi konvensional. Sebagai pengguna, saya
lebih memilih angkutan online dibandingkan angkutan konvensional karena menurut
saya lebih nyaman karena tidak perlu berbagi dengan orang lain atau bersifat private, lalu dengan harga yang lebih
terjangkau apabila di akumulasi semuanya dan tidak perlu untuk menunggu lama
karena transportasi online datang dengan cepat dan memberikan fasilitas
dibandingkan dengan menggunakan naik angkutan konvensional.

Seharusnya, angkutan
konvensional tidak boleh menentang keberadaanya angkutan online meskipun sangat
merugikan supir angkutan konvensional. Seharusnya, angkutan online dan angkutan
konvensional membuat kolaborasi tanpa perlu adanya perselisihan atau  mungkin angkutan konvensional akan menjadi
pilihan masyarakat dengan cara meningkatkan dalam segala aspeknya mulai dari
mengenai kenyamanan, kebersihan, keramahan dan maupun aspek-aspek yang lain
yang menunjang kemauan masyarakat untuk menaiki angkutan konvensional