1. Latar Belakang Kriptografi merupakan sebuah metode yang sering

1.    
Latar Belakang

 

 

Kriptografi merupakan sebuah metode yang
sering digunakan untuk mengamankan data maupun informasi. Metode ini biasanya
dibuat dengan menempatkan berbagai teknik dalam aturan matematika yang
membentuk sebuah algoritma. Kegunaan kriptografi adalah membuat data/informasi
berupa pesan yang jelas (plainteks) menjadi pesan yang tidak dapat dimengerti
(cipherteks). Blok cipher menjadi salah satu kriptografi yang sekarang ini
sering digunakan sebagai pengamanan dalam transfer informasi di internet. Blok
cipher memiliki beberapa keunggulan diantaranya, mudah di implementasikan ke
dalam bahasa pemograman. Selain itu apabila terjadi kesalahan pada blok
tertentu tidak akan merambat ke blok lainnya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Banyak teknik kriptografi yang
diimplementasikan untuk mengamankan informasi, tetapi kondisi sekarang ini
banyak juga cara ataupun usaha yang dilakukan oleh kriptanalisis untuk
memecahkannya. Padahal suatu hal yang penting dalam pengiriman pesan adalah
keamanan yang dapat menjaga informasi tersebut agar tidak mudah diketahui atau
dimanipulasi oleh pihak-pihak lain. Salah satu solusi yang dapat dilakukan
adalah memodifikasi kriptografi yang sudah dipecahkan atau menciptakan
kriptografi yang baru sehingga dapat menjadi alternatif untuk pengamanan pesan.

 

 

 

 

 

Algoritma
enkripsi perlu ditampilkan terbuka ke publik agar dalam kondisi apapun, selama
kunci tetap aman, enkripsi akan tetap aman. Hal disebabkan karena ada
kemungkinan orang akan mendapatkan software/hardware kita dan kemudian
melakukan reverse engineering sehingga algoritma kita terlihat lawan. Jadi,
bila seluruh pasang plaintext/ciphertext kita di masa lalu diketahui lawan
sebanyak apapun, cipher kita yang sekarang harus tetap aman, selama kunci yang
sedang kita pakai saat ini tidak mereka ketahui.

Demikian juga bila lawan mengetahui
seluruh kunci yang pernah kita gunakan, selama mereka tidak mengetahui kunci
yang kita gunakan saat ini, diharapkan data kita saat ini akan tetap aman.
Artinya, kita hanya perlu menjaga kerahasiaan kunci, dan tidak perlu menjaga
kerahasiaan algoritma, plaintext/ciphertext yang lalu yang sudah tidak bernilai
lagi, dan seterusnya. Karena usaha untuk menyembunyikan banyak rahasia tentu
lebih sulit dari pada hanya menjaga sedikit rahasia.

Tujuan dari studi kriptografi ini adalah
untuk membandingkan antara Enkripsi – Deskripsi menggunakan algoritma DES dan
AES.

 

 

 

2.     Kajian
Pustaka

 

2.1  Penelitian
Terdahulu

 

Pada bagian ini akan
membahas beberapa pustaka yang digunakan sebagai landasan teori yang dapat
dijadikan acuan atau juga sebagai pembanding terkait perbandingan DES dan
AES.Berikut ini sebagai pustaka yang diacu adalah penelitian terdahulu yang
telah dilakukan terkait dengan kriptografi DES dan kriptografi AES

 

Penelitian sebelumnya
yang berjudul Enhancing the Security of DES Algorithm Using Transposition
CryptographyTechniques menggunakan tekniktransposition untuk meningkatkan
keamanan kriptografi DES. Penelitian ini 9 menggunakan plaintext yang akan
dienkripsi dengan algoritma DES yang sudah dimodifikasi dengan tambahan teknik
transposition.

Teknik transposition yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Simple Columnar Transposition Technique
(SCTTMR). SCTTMR adalah teknik transposition yang menyusun plaintext ke dalam
sebuah bujur sangkar atau tabel atau matriks dan membacanya dengan urutan kolom
secara acak. Teknik SCTTMR dilakukan di awal proses enkripsi. Sehingga
plaintext yang akan dienkripsi menggunakan algoritma DES sudah merupakan hasil
dari modifikasi SCTTMR. Penelitian ini menghasilkan peningkatan keamanan pada
algoritma DES. Jika intruder ingin menyerang algoritma modifikasi ini, maka diperlukan
urutan random kolom yang digunakan pada proses SCTTMR dan memerlukan waktu yang
lebih lama 3.

 

 

Penelitian lain yang
berjudul Modified Key Model of Data Encryption Standard menggunakan 8 bit
pertama hasil permutasi kompresi pertama dan 8 bit terakhir pada permutasi ke
dua sebagai 16 bit kombinasi untuk tiap 48 bit key pada saat pengangkatan 16
kunci internal. Sehingga ketika dilakukan proses enchipering DES kunci yang
digunakan 48 bit pada 16 bit pertama selalu statik atau sama. Tujuan dari penelitian
ini adalah memperumit kriptografi DES normal pada saat pengangkatan kunci
sehingga lebih sulit untuk dilakukan teknik kriptanalisis DES normal 4.

 

2.2  Teori
Kriptografi

 

 

3.     Metode
Penelitian

 

Dalam melakukan
perbandingan antar AES dan DES diperlukan beberapa tahap:

1.     Menentukan
plainteks

2.     Mengubah
plainteks menjadi ascii

3.     Masukan
ascii kedalam algoritma AES

4.     Masukan
ascii kedalam algoritma DES

5.     Setelah
ascii dimasukan ke dalam algoritma AES dan DES,

6.     Kemudian
menghasilkan chiperteks dari masing – masing algoritma AES dan DES

7.     Setelah
itu cari korelasi dari masing masing algoritma AES dan DES

8.     Kemudian
bandingkan korelasi AES dan DES mana yang paling besar atau nilai mendekati 1.

4.     Hasil
dan Pembahasan

 

Rancangan kriptografi
dirancang dengan menggunakan 8 proses untuk mendapatkan cipherteks dengan
algoritma AES dan DES. Setiap satu blok untuk menampung menggunakan 64-bit atau
sebanding dengan 8 karakter. Proses awal menerima inputan plainteks dan kunci
yang dikonversi ke kode ASCII yang kemudian menjadi bilangan biner.

 

Proses
Enkripsi – Deskripsi menggunakan algoritma DES dan mencari korelasinya,

 

Plaintext

 

ASCII

 

Biner

 

 

Hexa

 

 

Masukan ke dalam rumus atau algoritma
DES

 

 

Menghasilkan Chipertext

 

 

Ubah
Plaintext(input) dan Chipertext(output) menjadi Decimal

 

 

Cari
korelasi antar Plaintext dan Chipertext

 

 

 

 

 

Proses
Enkripsi – Deskripsi menggunakan algoritma AES dan mencari korelasinya,

Plaintext

 

ASCII

 

Biner

 

 

Hexa

 

 

Masukan
ke dalam rumus atau algoritma AES

 

 

Menghasilkan
Chipertext

 

 

Ubah Plaintext(input) dan
Chipertext(output) menjadi Decimal

 

 

Cari korelasi antar Plaintext dan
Chipertext

 

 

Berikut proses plainteks diubah menjadi ascii lalu ke
biner dan hexa

Berikut Proses Enkripsi – Deskripsi menggunakan
algoritma DES,

 

Proses plaintext dan chipertext menjadi decimal

 

Kemudian di korelasikan antar
Plaintext dan Chipertext setelah di enkripsi menggunakan algoritma DES,namun
diubah menjadi decimal dlu,

 

Berikut hasil korelasi,

 

 

 

Berikut
Proses Enkripsi – Deskripsi menggunakan algoritma DES,

 

 

 

 

 

Proses
plaintext dan chipertext menjadi decimal

 

Kemudian
di korelasikan antar Plaintext dan Chipertext setelah di enkripsi menggunakan
algoritma AES,namun diubah menjadi decimal dlu,

 

Berikut
hasil korelasi,

 

5.    
Simpulan

 

Jadi
dapat disimpulkan bahwa proses enkripsi – deskripsi menggunakan algoritma atau
metode DES lebih besar atau lebih kuat ketimbang AES karena nilai korelasi DES
lebih besar dari AES dan mendekati nilai 1.

 

 

6.     Acuan

 

1  Didi
Surian, 2006. Algoritma Kriptografi AES RIJNDAEL.

2  Suprabowo,
Arif. 2011. Analisa Kriptanalisis Deferensial Pada Twofish.

Institut Teknologi Bandung.

3  Sunil, S.,
Maakar, K., & Kumar, S., 2015,Enhancing the Security of DES

Algorithm
Using Transposition Cryptography Techniques, International

Journal
of Advanced Research in Computer Science and Software

Engineering,

http://www.ijarcsse.com/docs/papers/Volume_3/6_June2015/V3I6-

0267.pdf
(diakses tanggal 17 Febuari 2016).

4
 Salih, M.,2010,ModifiedKey Model of Data
Encryption Standard,College

of
Engineering, University of Anbar, Iraq.

http://www.iasj.net/iasj?func=fulltext&aID=14266.pdf

(diakses
tanggal 12 maret 2016)

5
 Yuniati, V., Indrianta, G.,&Rachmat,
A., 2009,Enkripsi dan Dekripsi

dengan
Algoritma AES 256 untuk semua jenis file:Yogyakarta.

http://ti.ukdw.ac.id/ojs/index.php/informatika/article/viewfile/69/29

(diakses
tanggal 12 maret 2016)